Showing posts with label Experiencing Grace. Show all posts
Showing posts with label Experiencing Grace. Show all posts

Thursday, April 18, 2019

Living Hope

Udah hampir 4 bulan gue tertanam di sebuah komunitas baru. Sejujurnya rasanya beda banget seperti yang gue rasakan jaman dulu gue ngampus. Kalo dulu basicnya adalah anak-anak perantauan yang berkumpul menjadi 1 dan berbagi suka duka bersama haha. Gue tau tiap member punya background yang berbeda tapi karena sama-sama anak luar kota dan tinggal di kosan, somehow ga keliatan banget gitu status sosial masing-masing. Jadi mau ada milyaran di rekening juga tetep aja ke gereja naik angkot bareng, pulang makan di tenda racun dan cari duit bareng jualan baju bekas pagi-pagi di pasar tradisional (buat acara komunitas maksudnya).

Nah kalo yang sekarang itu... rasanya beda banget. Pertama kali dateng ternyata tempatnya mevvah sekali. Belum lagi tiap kali nyampe, kadang suka ada yang nanya 1 dengan yang lain "Parkir di mana?" wkwk ga ada gitu yang nanya "Tadi gampang ga dapet ojeknya?" HAHAHAHAHA. Trus mau fellowship juga asal jebret aja makan dimana gitu yang jauh dan mehong. Rasanya beda banget. Status sosial juga keliatan banget gitu antara 1 dengan yang lain.*

Satu waktu gue merasa berat sekali mau dateng di komunitas karena merasa 'I'm not supposed to be there' hahaha. Meski memang value-nya 'come as you are' tapi tetep karena tau bahwa gue dan yang lain berada di status sosial yang berbeda rasanya ya ga enak aja gitu. Kadang merasa unworthy, kadang merasa 'kepedean/sok asik' padahal tau memang beda. Kadang merasa salah tempat.

Tapi tiba-tiba gue kepikiran ini:

Kalo aja di dunia ini kita bisa merasa ga layak semeja bareng dengan orang-orang yang berbeda status sosial dan ekonomi, gimana nanti?

..

Gimana dengan fakta bahwa ada Tuhan yang menciptakan segalanya dan memiliki segalanya?
Gimana dengan fakta bahwa ada Tuhan dengan bumi sebagai pijakan kakiNya dan langit sebagai tahtaNya?
Gimana dengan fakta bahwa ada Tuhan yang memiliki surga dengan jalan yang terbuat dari emas?
Gimana dengan fakta bahwa Tuhan adalah Kudus, Benar dan Adil.. sementara kita adalah manusia yang jahat, kotor, dan penuh dengan dosa?

Akankah kita bisa melihatNya? Bertemu duduk semeja bersama?
Akankah kita sanggup untuk bisa hidup bersamaNya dalam kekekalan?

Akankah kita mampu berdiri di hadapan TahtaNya? Di hadapan para malaikatNya?
Di dalam atmosfer yang penuh dengan kemuliaan, kekudusan dan kebenaranNya?

Untuk bisa berdiri di atas jalan yang terbuat dari emas saja rasanya gue ga sanggup.
Lebih lagi dengan apa yang gue tulis sebelumnya.

I am not worthy.
I am a sinful man.
I am dirty.
I am full of wickedness.
I am evil.
I had committed many offenses before God.

Ga ada seujung kuku-pun gue sanggup untuk berdiri dan memandang Tuhan.

BUT.. GOD..

But God demonstrates His own love toward us, in that while we were still sinners, Christ died for us. (Romans 5:8 NKJV)

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8 TB)

BUT GOD.

Tuhan tau manusia itu sebenarnya sampah karena dosa yang melekat padanya,
Tuhan tau manusia itu ujungnya maut mau jungkir balik kek apapun juga.
Tuhan tau manusia itu ga akan pernah bisa masuk ke dalam kerajaanNya karena dosa yang membelenggunya.

TETAPI TUHAN..

Tuhan ambil inisiatif.
Tuhan turun tangan.
Tuhan yang bergerak.
Tuhan berpikir dan bertindak.
Tuhan proklamirkan kebenaranNya.
Tuhan tunjukkan keadilanNya.
Tuhan buktikan kasihNya.

Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Sejak awal manusia berdosa, Tuhan sudah merancangkan hadirnya Penyelamat. 
Namanya Yesus Kristus.

Sedemikian rupa dibuatNya sehingga Yesus adalah a perfect man dan a perfect God yang sanggup menjadi manusia untuk mati menanggung seluruh murka Tuhan atas dosa yang diperbuat oleh seluruh manusia di bumi ini.

Sebelum Yesus Kristus mati, Dia berkata "Sudah Selesai" yang artinya bahwa seluruh penghukuman dan kutuk atas dosa sudah ditanggung dan sudah diselesaikan di dalam tubuhNya di atas kayu salib.

Dia pun bangkit menyatakan bahwa Dia telah menang atas upah dosa -- yaitu maut.

Semua karena KasihNya pada kita.

For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him should not perish but have everlasting life. (John 3:16 NKJV)

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16 TB)

..

Kalo bisa divisualisasikan, gue merasa seperti seorang yang terdesak di tengah lautan manusia yang berjalan menuju maut. Terdesak sedemikian rupa dan tau kalo gue tersesat dan terjatuh dan ga bisa bangkit lagi (seperti lagu ya wkwk). Dan somehow ada seseorang yang berlari ke arah gue dengan jubah kemuliaanNya yang berkibar-kibar (karena berlari) dan Dia datang menunjukkan tanganNya yang berlubang dan berkata "Semua sudah Kuselesaikan. Maukah kamu menerimaNya?" dan gue hanya bisa menangis dan mengangguk-angguk. Dia peluk gue. Dia angkat gue. Dia taruh gue di atas bahunya. Dia bawa gue berbalik dari arus yang ada, berlari mengarah pada sebuah kastil besar tempat Dia tinggal. Dia bawa gue kesana dan sampai ke depan gerbang kastil kerajaan itu, Dia turunkan gue. Dia pegang tangan gue yang gemetar melihat seluruh bangunan dan jalanan yang terbuat dari emas yang bersinar-sinar begitu cemerlangnya.

Dan Dia berkata: "Jangan takut. Akulah Aku. Immanuel."

Oh my God im crying while im writing this :"""

Jesus is the reason of all.
Jesus is the only reason that we can be accepted before God.

Jesus Christ is my Living Hope.

**

How great the chasm that lay between us
How high the mountain I could not climb
In desperation, I turned to heaven
And spoke Your name into the night
Then through the darkness, Your loving-kindness
Tore through the shadows of my soul
The work is finished, the end is written
Jesus Christ, my living hope

Who could imagine so great a mercy?
What heart could fathom such boundless grace?
The God of ages stepped down from glory
To wear my sin and bear my shame
The cross has spoken, I am forgiven
The King of kings calls me His own
Beautiful Savior, I'm Yours forever
Jesus Christ, my living hope

Hallelujah, praise the One who set me free
Hallelujah, death has lost its grip on me
You have broken every chain
There's salvation in Your name
Jesus Christ, my living hope

Then came the morning that sealed the promise
Your buried body began to breathe
Out of the silence, the Roaring Lion
Declared the grave has no claim on me

Then came the morning that sealed the promise
Your buried body began to breathe
And out of silence, the roaring Lion
Declared the grave has no claim on me
Oh Jesus, Yours is the victory, whoa!

Hallelujah, praise the One who set me free
Hallelujah, death has lost its grip on me
You have broken every chain
There's salvation in Your name
Jesus Christ, my living hope

Hallelujah, praise the One who set me free
Hallelujah, death has lost its grip on me
You have broken every chain
There's salvation in Your name
Jesus Christ, my living hope

Oh Jesus Christ, my living hope
Oh living hope
Yeah, He's our living hope
He's our living hope
Yeah, He's our living hope
And I believe it
You're my living hope
Yeah, You're my living hope
You're my living hope
Yes you are, yes you are, in many ways
In many ways
In many ways
You are, you are, you are, you are
In many ways

Hallelujah, praise the One who set me free
Hallelujah, death has lost its grip on me
You have broken every chain
There's salvation in Your name
Jesus Christ, my living hope

Oh Jesus Christ, my living hope


Songwriters: Phil Wickham / Brian Mark Johnson
Living Hope lyrics © Bethel Music Publishing


_____
*anywaaaay, im okay with this kind of community, in fact i love them! obviously ini adalah season yang baru buat gue. doakan aku yah wakakakakka..





Wednesday, January 16, 2019

Personal Rhema

Minggu ini gue decide untuk mulai lagi baca alkitab rutin tiap hari (kemane aje handoko?). Baru 2 hari sih WAKAKAKAK. Itu juga karena accident. Awal taun baru gue udah ngawur kagak jelas ngeselin dah. Gue akhirnya 'lari' dengerin sermon lagi. Perjamuan lagi. PW lagi. Hati langsung berasa kaya dibersihin. Rasanya jadi lebih waras aja wkwk.

So, udah 2 hari nih gue baca alkitab (weitz ini prestasi loh guys wkwk). Gue ikutan bible reading plan di app Bible. 2 pasal aja per hari: 1 pasal PL + 1 pasal PB. Bahagia banget bacanya, karena kadang gue suka bosen baca PL, dan pengen liat PB, begitu pula sebaliknya. Dan gue bukan orang yang suka baca loncat-loncat. Maunya runut gitu. Puji Tuhan gue cari di app Bible dan nemu bible reading plan yang menyenangkan sekaliiii. Karena dengan 2 pasal, gue jadi bisa eksplor pasal itu dengan liat terjemahan inggrisnya (gue paling suka Amplified) terus bisa cari-cari commentary-nya. Wadow seru abis. Dan entah mengapa rasanya Firman itu seperti hidup dan benar-benar berbicara. Kaya ada highlight-nya tiap pasal. Ya biasa disebut dengan rhema ya hehe. Emang sih lama jadinya. Beresnya itu (kalo rajin) 2 tahun hahaha. Tapi gue ga ngejar cepet-cepetnya sih. Gue pengen dapet pewahyuannya #ceilah dan rhema yang tadi gue bilang.

So..... daripada rhema-nya gue pendem di hati, gue memutuskan untuk menuliskannya disini! HIP HIP HOORAY!! Gue akan menambah 1 label lagi: Personal Rhema πŸ˜ƒ karena pasti tiap orang-orang dapet rhema yang beda-beda yah makanya gue bilang ini personal rhema heuheu. Tapi tetep gue berharap ini bisa jadi berkat buat siapapun baca, including myself qiqiqiqi.

Anw, personal rhema ini pasti akan gue tulis dulu di hape, baru gue post disini. Jadi rhema-rhema ini akan menambah juga deretan post di label Tulisan Hape.

So, stay tuned yahhh...
and please doain gue biar ga males wkwkwk.

See you in Personal Rhema! πŸ˜„

SITU NGERASA PINTER?

1 Kor 1:3 
Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.

Waktu pertama gue baca ayat ini, gue rada bingung. Yesus membenarkan, menguduskan dan menebus kita? Hmm oke deh gue ngerti bagian ini, tapi "..dalam Kristus Yesus.. telah menjadi hikmat bagi kita.." maksudnya gmn ya?

Bbrp wktu terakhir gue menyadari bahwa ternyata Tuhan ga hanya ingin menjadikan kita benar dan kudus dihadapanNya, tetapi juga ingin menjadi hikmat bagi kita.

Kalo maroon 5 bilang "we're just a speck of dust within a galaxy" tapi entah mengapa meski kita tau kalo kita hanya setitik debu, seringkali kita merasa otak kita keren banget smpe rasa2nya kita bisa buat apapun dengan apa yg ada di otak kita. Kita ngerasa pengalaman organisasi, pendidikan tinggi, pengalaman kerja bikin kita jd pinter.. pdhl ga juga. Hikmat Tuhanlah di atas segalanya.

Dan dengan ngandelin apa yg ada di otak, malahan yg ada banyak keputusan yg kita buat berujung pada kekecewaan, kegagalan dan rasa frustrasi.

Yoh 15:5b 
"..sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." 

Bisa dikatakan kita itu dodol lah di luar Tuhan. Dan puji Tuhannya, Bapa ga pengen kita jd org dodol. Tuhan ga hanya ingin kita ditebus dr dosa dan mati masuk surga doang, tp Dia rindu menuntun kita hari demi hari, dlm setiap aspek hidup dan pengen kita bisa menikmati hidup di bumi.

Mzm 91:16 
"Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia.."

Itulah mengapa Dia ingin Yesus jd hikmat bagi kita. Dalam setiap situasi yang ada di depan kita, Bapa tau kapasitas mata dan otak kita terbatas dan Dia tau kalo kita butuh intervensi illahi untuk kita ngerti jalan yg terbaik itu yg mana.

Pertanyannya kemudian gimana sih kita bisa menikmati hikmat?

1. Focus on Jesus
Hikmat itu ada di dalam Yesus, maka kita harus fokus pd Yesus. Gimana caranya?

Amsal 3:6 
Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 

Tiap pagi, tiap hari sadari kalo Yesus di dalam kita dan kita di dalam Yesus.. dan Dialah hikmat bagi kita. Akui Dia. We can say this "Tuhan Yesus Engkaulah hikmatku. Luruskan jalanku. I cannot but You can."

2. Be humble
Tuhan itu pribadi yg gentle, Dia ga akan memaksakan sesuatu ke kita kalo kita ga mau. Bahkan berkat pun ga Dia paksakan kok. We need to be humble. Ambil waktu untuk bilang "Lord, You know what, I am dumb without You. And I need You."

Yak 1:5 
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati..

3. Be open
Punya hati yg terbuka dan be aware sm arahan T. Dia bisa bicara lewat media apapun: orangtua, pembimbing, sahabat dan bahkan situasi yg ada. 

But most of all Dia kasih hikmat lewat Alkitab yg terbuka. Kita bersyukur dulu Salomo minta hikmat dan skrg kita tinggal baca hikmat yg T kasih ke Salomo, slh 1 nya adl kitab Amsal. 

Advice: Amsal itu 31 pasal dan kita bisa baca Amsal sesuai tanggal. Misal hr ini tanggal 10 kita baca Amsal 10. Besok Amsal 11 dan seterusnya. (31 pasal Amsal gue rasa bukan kebetulan ya πŸ˜…)

Dan tentu juga ga cuman Amsal, kitab lain pun jg hikmat T tapi memang Amsal  spesifik bgt ngasih hikmat2 kehidupan.

4. Be ready to change

Yak 1:22 
Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja..

T kasih hikmat bukan krn Dia pengen jd diktator tp semata2 Dia pengen kita hidup bahagia. Sama seperti bapak di bumi yg pengen anaknya hidup baik, demikian juga Bapa di surga pengen kita panjang umur dan berbahagia. Jadi tau dan melakukan hikmat bukan buat nguntungin T (krn buat apa?) tp semata2 untuk keuntungan kita sendiri.

He wants us to have a satisfying life and He cant wait to guides us, leads us and blesses us.. by becoming wisdom to us πŸ’“

Kolose‬ ‭2:3‬ ‭TB‬‬ 
..sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.



____
Gue inget banget nulis ini di hape pas lagi di busway mau ke kantor.
Gue share di grup PMK, ci Ellis liat, trus dia minta ijin buat share tulisan ini.
Ya gue mengiyakan dong.. lah ternyata di share nya di grup anak PA-nya. Yang mana aku mah siapa atuh haha. Hanyalah remah-remah ferero rocher wkwkwk. 
Anw, ini tulisan tanggal 4 November 2017 😊

Saturday, January 12, 2019

When Cough Hit Me (Testimony)

Jadi pulang dr Malang aku kena radang tenggorokan yang imbasnya jadi batuk pilek. Batuknya ga cuman krn gatel di tenggorokan tp juga seperti ada dorongan dr dalem yg kepengen batuk (yg pernah batuk pasti ngerti). 

Nah, beberapa waktu terakhir aku berdoa ga bersuara (dalam hati/berbisik). Tp semalam abis pulang dr MSJ sebelum tidur aku kepengen berdoa bersuara. 

Saat aku ngomong "Tuhan Yesus" somehow aku merasa dorongan ingin batuk ky kesedot ke dalem πŸ˜… (God is my witness). 

Di MSJ aku belajar di Rom 10:10 "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." Bahwa klo hati kita percaya maka kita dibenarkan, klo mulut kita mengaku maka kita diselamatkan. 

Ketika momen "batuk kesedot" itu terjadi aku langsung confess dlm doaku "Aku sudah disembuhkan. Aku sembuh oleh kuasa Darah Yesus. Aku adl ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan yg baru sudah datang." Setelah berdoa confess dengan mulut aku, aku juga berbahasa roh. Dan kemudian... (God is my witness) rasa ingin batuk itu hilang seketika 😭😭 

Aku jd belajar banyak hal:

1... God is ALWAYS be with us, and there is NOTHING can separate us from His presence and His love.
Krn sejujurnya aku cuman ngomong "Tuhan Yesus" doang tp efeknya luar biasa. Bukti bahwa Dia hanya 'sejauh' perkataan saja krn Dia selalu hadir dan siap untuk menyelamatkan.

2.. We need to confess our faith.
Aku belajar klo iman kita perlu diperkatakan, krn "i believe therefore i speak". Kita harus declare dengan mulut kita akan iman percaya kita dan declare apa yg sedang T kerjakan dlm hidup kita. Iman ga bisa hanya di hati doang, tp kudu diperkatakan agar itu bermanifestasi dlm hidup kita. If we believe that Jesus is our God, we need to pray the salvation prayer with our mouth and confess "Jesus, i believe that you died and rose for me. And i declare that You are my Lord and Savior"

3.. There is power in speaking in tongues!!
Sejujurnya setelah momen batuk kesedot dan confession itu, aku bahasa roh ga abis abis πŸ˜… dan selama aku berbahasa roh, aku semakin terus merasa dorongan batuk terus menghilang smpe ketiduran πŸ˜…. Paulus bilang "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh" artinya berbahasa roh ga cuman di gereja pas ibadah doang, atau hanya saat musik sedang naik sampe badan merinding πŸ˜‚ tp kebenarannya adl kita bisa berbahasa roh kapan aja. Berbahasa roh ga mesti teriak-teriak diikuti tangan geter, tp bisa pelan dengan suara kecil--namun kuasanya tetap sama. "He who speaks in a tongue edifies himself". Krn kata 'himself' ga cuman bicara roh aja tapi termasuk di dalamnya jiwa dan tubuh. Klo lagi sakit, kita bisa semakin lagi berbahasa roh.

Overall, sejujurnya aku jarang mengalami kesembuhan instan ky gini dan benar-benar krn kasih kemurahan T aku bisa ngalamin begini (bcz who am I without Him 😭). Itu artinya juga klo macam aku aja bisa mengalaminya, kamupun juga bisa. Bcz it is not about how bad we are, but it is about how Good God is for us 😭. Yesus baik. Haleluya. Amin.

Friday, January 4, 2019

Not by Accident or Coincidence


Not by Accident or Coincidence
And she happened to come to the part of the field belonging to Boaz.
Ruth 2:3 (boldface mine)
I like how the King James Version translates Ruth 2:3: “and her hap was to light on a part of the field belonging unto Boaz” (boldface mine). The Hebrew word for “to come to” and “to light on” is qarah. And the Hebrew word for “happened” and “hap” is miqreh, which comes from the word qarah. Incidentally, the word happy comes from the old English word “hap,” which is why when happenings happen the way you want them to happen, you are happy!
I don’t know how many times I have heard testimonies from people who happened to meet an old friend in need and were able to minister to the friend, or who happened to have been delayed or who happened to change their original plans and, because of that, were protected from danger. My friend, none of those things happened by accident or coincidence. It was the Lord giving them eth and qarah—putting them at the right place at the right time!
This is reflected in a praise report from Sandy, who lives in Singapore.
Before I drive, I always make it a point to pray for protection. On March 31, I prayed as usual before I started driving toward the city.
I got stuck in heavy traffic and the cars were inching forward toward a major traffic junction. Like many motorists, I got impatient and was disappointed when the traffic light turned red just as I was approaching the junction. Then, I heard a strange sound of something cracking, and I was shocked as a huge old tree fell and hit the roof of the car right in front of me, creating a huge dent in its roof and shattering the rear windscreen.
By God’s grace, the driver of the car emerged unscathed. Needless to say, I was very grateful to God when I realized that He had placed me at the right place at the right time so that I wasn’t hurt.
I am very thankful to Jesus for His divine protection. Without His wings of protection over me, I may not even be alive today. Thank You, Jesus!
Even with something as mundane as driving on the road, which many of us do every day, we need to make it a point to pray for the Lord’s protection. Let’s not put our trust in our daily routines, our skills, or our limited ability to foresee danger. Our trust must be in the Lord’s protection.

Saturday, April 23, 2016

The Way To Be Saved (C.H. Spurgeon)

The Way To Be Saved
Charles Spurgeon



The way to be saved is to come to Christ. Christ is a person, a living person, full of power to save. He has not placed his salvation in sacraments, or books, or priests, but he has kept it in himself; and if you want to have it you must come to him. He is still the one source and fountain of eternal mercy. There is no getting it by going round about him, or only going near to him: you must come to him, actually to him, and there must be a personal contact established between the Lord Jesus and your spirit. Of course it cannot be a natural contact, for his body is in the heavens and we are here; but it must be a spiritual contact, by which your mind, heart, thought, shall come to Christ, and faith, like a hand, shall touch him spiritually, grasp him by believing upon him, and receive life and grace from his divine power.

Just as when the woman of old touched his garment’s hem, the virtue went out of him to her, and she was healed; so now, though he be yonder, faith’s long hand can touch his divine and human person, by confiding, trusting, and resting in him, and so virtue will flow from him into our soul, (body), and our mind shall be healed of whatsoever disease it hath.

Come as a person to the Person of Christ

Wednesday, February 3, 2016

Stepping out of your Bell Jar

Please pray to your Heavenly Father if you feel so hopeless and helpless with your situations,
and do some blog-walking (in right blog-neighbours, of course).

You never know what you'll find. Like now.

Repost from graceunited.sg

Be blessed :)

___


Stepping out of your Bell Jar


I used to be depressed. I was depressed for a long time.
In fact, when my Husband first met me, I told him, “If you want to know me, watch ‘The Hours’.” I identified with the female protagonists in the film- those who walked the day to day with a dreary heart.
I used to pen poems in my teens and when I studied abroad, a German friend told me that my poems reminded me of Sylvia Plath’s. I was a frog in a well then who didn’t read so much poetry as I did write them. I found Plath’s poems and realised how much we were pieces of each other.
Sylvia Plath famously described herself as being trapped under a Bell Jar that she could never escape from. I used to identify with that because of the oppression I felt inwardly and it affected how I also viewed my life outwardly. The crisis of self would become a crisis of circumstance because of self fulfilling prophecies. I was like Eeyore. I couldn’t believe good for myself.
I came out of depression when my Husband one day told me, “If you believe you have to be emotional and sad before you write something good, that’s terrible. Doesn’t it mean you’ll have to always be sad?” My husband is named Ian, a version of the name John, which means ‘grace’. In fact his Mandarin name means ‘grace shines forth’. Talk about amazing grace that found me. :)
I began to encounter Jesus again, together with my husband we began to see the gospel afresh. We prayed for our loved ones to also see this grace of Jesus- i was always a Christian but only understood grace in my mid twenties. Initially, we had loved ones telling us to not pray too daring a prayer, it has to be His will. Lol. Some of these loved ones are now mighty prayer warriors who pray daring prayers too. Thank you Jesus!
Well, back to the Bell Jar illustration. Tonight as we were talking, it hit me.
When a person is in a room with windows, when they look at the glass and focus on it, they see their reflection but the surroundings are blurred. You can try this also with a camera. It’s called focal point. When we choose to focus on our pain, our disappointments, we can’t see what lies ahead. The bible says that we are MORE than conquerors in Christ, but as long as we keep our eyes on our personal reflection in the glass, we remain blinkered to that victory.
But imagine if we take our eyes off ourselves and look through the window, we focus on the horizon. Suddenly we don’t see the boundaries that bind us in. We look beyond our limitations to see how unlimited He is. It’s like when you shift focus to a focal point beyond your reflection in the glass, you will no longer see yourself but you will see the vast unlimited possibilities beyond.
We limit ourselves when we focus on ourselves.
A famous experiment in the past saw people being placed in prisons with the cell doors unlocked. The participants could leave the prison anytime yet mired by disbelief, they didn’t even try to open the gates to step out.
That’s what our personal fears and limitations do to us- they prevent us from stepping out of our comfort zones. A comfort zone doesn’t always bring comfort. It is just a comfort zone because it is familiar. Sometimes being depressed becomes a habit of thought, the norm and so it becomes a comfort zone.
So how does one step out of that comfort zone?
First see how big He is, and how small your problem is.
My favourite exercise when I feel overwhelmed? I think about how vast the universe is, and then I picture the LORD who created it pinpointing on me and then my problem & suddenly my problem is microscopic, a nano issue to Him. I settle my eye gate.
Then I check my mouth gate. I praise and worship because when I praise Him, I am declaring my victory in spite of my situation. I watch what I say not to be legalistic, but to speak the good I want to see in my life. Planting my seed in His faithfulness. If I fail and speak out of line, i declare I am the righteousness of God in Christ Jesus unto victory. No guilt and condemnation weeds will prevent seeds of faith from taking root n sprouting.
Then I check my ear gate, faith comes from hearing and hearing the Word of Christos. I aim to tune my ears to the good stuff, to His promises of good in my life. When I hear right, I let the right words in to shape my thoughts and emotions.
Then I remember that Jesus is the fragrance that brings the LORD joy for me. And I breathe that joy in and breathe out my anxieties. And I am strengthened.
Each step with my listening, my seeing, my talking, my breathing in takes me far beyond the invisible Bell Jar that tries to bind me to all the limitations that I imagined out because of my fears and anxieties.
The man by the pool of Bethesda was asked if he wanted to be healed because he had an excuse for living in the season of defeat and despair- it is called self pity. One of my pastors brought me to see something I hadn’t seen before. He was asked if he wants to be healed because it means stepping out one’s comfort zone. It means beginning to work again (not legalistic work but good honest work), it means taking steps you don’t even know you can take.
Today I am free of that Bell Jar because I changed my focal points, because I decided to take steps out of my comfort zone knowing that when i look down to check out the footprints that there is just one set because He is carrying me.
A dear friend made it simple for me one day. I was anxious about my eldest boy and she asked me, “Do you trust Jesus?” “Yes.” “Okay, so if you trust Jesus then don’t worry.” So I decided there and then to take on an Alfred W Newman slogan for my own, “What me worry?”
He is therefore I am. He is not confined by impossibilities or Bell Jars, neither am I. We must not just step physically out of Egypt, we also need to step out of mental and emotional Egypt. He who is made free is free indeed.
And thus, I stepped out of the Bell Jar.

Tuesday, December 29, 2015

Masuk Angin

Can't help but share this!!! *pegangan laptop*

I experienced this TWICE in this month.

Oke jadi begini..

Udah dua kali gue mengalami gejala masuk angin. Kepala pusing dan terasa menekan, temperatur badan lebih rendah, badan lemes, mata berat. Rasanya ngantuk tapi badan dan mata ga bisa diajak tidur. Gue pribadi juga sebenarnya ga gitu suka tidur siang, karena rasanya agak bersalah dengan hari yang dihabiskan dengan tidur. Mending baca ampe mabok dibandingkan tidur sampe muntah *lebay*

Gejala masuk angin ini biasanya diawali dengan kurang tidur. Oke gue tau kurang tidur emang jadi penyebab masuk angin. Tapi di dua kasus masuk angin yang gue alami ini agak sedikit berbeda. Kali pertama gue udah tidur selama 5 jam (lumayan kan 5 jam?) dan emang saat itu gue bangun lebih pagi untuk keluar kota (mungkin badan jadi gampang capek). Kali kedua ini gue udah tidur 6.5 jam (which is halo.. 0.5 jam lagi udah 7 jam!) dan kebangun karena kebelet pee yang kemudian masih leyeh-leyeh dengerin sermon pagi (nyantai kan?).

Di dua kondisi itu, gue tidur lebih dari 3-4 jam. 5 jam okelah ya. Dan 6.5 jam? Cukuplah.
Tapi kenapa gue masuk angiiin?

Gue zebel karena sebenarnya penyebabnya hanya karena kurang tidur yang ga kurang-kurang amat. Tidur 5-6 jam itu udah lumayan banget, dan apalagi di kali kedua gue masih nyantai di tempat tidur, tapi tetep aja masuk angin.

Yang pertama
Di kali pertama saat gue masuk angin di luar kota (sebut saja Bandung) bener-bener sangat merusak rencana. Karena cuman bisa 2 hari di Bandung, kedua hari itu menjadi sangat berharga untuk bisa kesana kemari.

Gue inget banget, saat itu saking udah ga kuatnya, gue memutuskan untuk ke kosan sebentar dengan pikiran tidur adalah obat yang terbaik! Nyampe di kosan, berbenah sebentar (sambil menyiapkan laptop untuk download wgwg) dan mencoba untuk tidur. Mata udah merem, tapi otak masih jalan. GRAAA. Buat tidur siang aja gabisaa KZL.

Di tempat tidur sempat terpikir untuk keluar kosan beli tolak angin, tapi kepala ini pusingnyaaaaa. Berat banget sampe melek aja susah, apalagi beranjak keluar lagi dan beli tolak angin? Ga kuat.

Desperate.

Ketika gue lagi terbaring di kamar kosan *lebay tapi iya* gue mendadak keinget 1 FT tentang speaking in tongues. Gue keingetan 1 ayat kalo berbahasa roh itu membangun diri. Diri ini ga cuman bicara roh, tapi juga jiwa dan tubuh. Ada dorongan dari roh gue untuk berbahasa roh, dan berbahasa roh lah gue. 

1 Kor 14:4.. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri
1 Cor 14:4.. He who speaks in a tongue edifies himself

Gue ga ngerti gue ngomong apa, dan gue ga peduli juga gue ngomong apa. Gue percaya Roh Kudus berdoa dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan dan lebih tepat sasaran dibanding gue sendiri berdoa dengan pikiran gue.

Roma 8:26-27.. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu..

Setelah berbahasa roh selama 1-2 menit.. jeng jeng! Gue masih terbaring #eaa
Dan setelah gue bangun....

God is my witness: the headache was gone!

Gue terpana. Serius.
Gue ga menyangka (akhirnya) gue mengalami kesembuhan yang terjadi dengan instan.

Wow 
Wow 
Wow

Ini seriusan?
Beneran?
Sembuh?
Ciyusan apah?

Masih kagak percaya.

Beres sakit kepala yang menghilang begitu saja, gue kemudian bergegas keluar kosan melakukan seluruh rencana yang udah disiapkan untuk hari itu.

And God is my witness: Sampe malem pun udah ga kerasa sakit kepala (dan bahkan gejala masuk angin yg lain) sama sekali!

Bahkan di hari itu gue sempet keliling-keliling toko buku yang which is klo sakit kepala itu masih ada, gue ga akan mungkin kuat. Tapi faktanya, semua gejala hilang begitu aja buff!

Wow.

I thank God for His words are so true!

Yang Kedua
Di waktu yang kedua, lagi-lagi gue masuk angin. Tapi yang ini lanjut besok aja haha.
Stay tuned!